Cerita ini dimulai di malam pesta, ketika tanpa sengaja kami berjumpa. Di tengah keramaian, senyum indahnya merekah, sambil matanya melirik, seolah menyampaikan aliran hangat yang mengalir ke dalam hati.
Dia adalah Mentari, meski bukan nama yang sesungguhnya. "Mentari" adalah panggilan yang kemudian dia berikan padaku di nanti.
Mentari adalah sosok yang ceria, penuh kepolosan. Meskipun tidak begitu dekat, kami saling mengenal dan kadang bertegur sapa.
Pertemuan pertama kami terjadi sepuluh tahun yang lalu, saat kami masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Namun setelah lulus, kami tak pernah bertemu lagi.
Setelah menamatkan sekolah, aku melanjutkan pendidikan di suatu kota, merantau jauh dari keluarga dan hanya bisa pulang sekali atau dua kali dalam setahun.
Seperti tradisi yang sudah biasa, akhir semester selalu diwarnai dengan perayaan pesta, yang pada akhirnya, menjadi pertemuan kedua setelah sekian lama tak berjumpa.
Sejak malam pertemuan itu, aku merasa tersenyum setiap waktu. Mengetahui bahwa kami bersekolah di tempat yang sama membuat dunia terasa lebih bercahaya.
Aku belum benar-benar memahami perasaan yang sedang aku alami, tapi aku yakin itu adalah bagian dari rencana yang telah ditetapkan oleh takdir.
Pertemuan ini, meski tanpa sepatah kata pun yang terucap, menjadi sebuah tarian diam di mana hati-hati kami saling berbicara dalam bahasa yang hanya mereka pahami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar